Mewujudkan Desa Ngabar yang Aman, Maju, Sejahtera dan Religius dengan berbasis Gotong Royong.  

Cerita tentang Desa Ngabar

Administrator | 19 Januari 2020 10:43:59 | Berita Desa | 235 Kali

https://www.ngabar.desa.id/index.php/first

Ngabar, mengabarkan pesan yang selama ini misteri?

Siang yang terik itu sekitar 8 (delapan) orang pasukan berkuda menyusuri pinggiran sungai Marmoyo yang membentang dari barat ke timur. Sepertinya serombongan laskar prajurit itu habis dari sebuah pertempuran yang dahsyat. Terlihat diantara salah satunya terluka sangat parah. Tertembus tombak yang masih belum bisa di lepaskan.

Saat melewati sungai yang agak menyempit melompatlah kuda yang di tunggangi bermaksud menyebrang ke sisi lainnya. Namun kondisi luka parah yang dialami jadi hilang keseimbangan membuat terperosok dan jatuh kedalam sungai.

Tubuh yang terjuntai tak berdaya itu pun terbawa derasnya arus sungai. Diketahui yang terluka itu adalah sang Senopati dari pasukan perang yang akan melanjutkan perjalanan menuju utara. Kembali ke markas komandonya. Balik ke istananya.

Melihat pemimpinnya terhanyut dalam sungai. Anggota laskar lainnya mengejar berusaha menjangkaunya. Beruntung akar pepohonan menghentikan tubuh yang terkoyak itu. Diangkat keatas bibir sungai. Terdengar suara lirih merasa haus. Minta air minum. Dengan sigap anak buahnya mencarikan di kampung dekat sekitar. Namun tak ada satupun orang yang mau memberikan air minum meskipun seteguk air.

Seakan menjadi kutukan. Kampung itu sudah tidak lagi mengeluarkan sumber air. Air bersih hanya dapat diperoleh dengan cara membuat cubelikan (lobang2 kecil yang mengeluarkan air jernih) di tepi sungai. Dan itu berlangsung sangat lama konon sampai tujuh keturunan. Kira2 sampai awal tahun 90an saat ada program pompa tangan dari Pemerintah. Setelah itu, sumber air hampir merata ada di setiap rumah. Sumur2 sudah tidak mengering lagi. Selesai sudah hukumannya.

Pembelajaran dari peristiwa ini sederhana. Namun syarat makna. Sesiapapun yang butuh pertolongan hendaknya beri bantuan apa yang bisa di berikan. Meski hanya setetes air. Jangan sampai pernah menolak.

Selanjutnya jadi pertanyaan, siapa gerangan pemimpin pasukan yang punya keramat itu?

Sekelumit cerita diatas adalah foklor atau cerita rakyat yang di percaya turun temurun. Bagian dari cerita asal usul makam keramat Sentono asri letaknya di Desa Ngabar Kecamatan Jetis. Seperti namanya lokasi makam ini masih rindang dan sejuk karena semilir angin berasal dari sela sela pohon besar dan tua. Menambah kesan wingit tempat ini.

Masyarakat Ngabar masih sangat menghormati keberadaan makam Sentono asri. Di bangun Pendopo persis di depan Makam yang masih di rawat dengan baik ini. Ada pula bangunan Musholla terbilang besar dan representatif. Menandakan tempat ini sering dikunjungi peziarah yang datang dari berbagai daerah. Bahkan ada pula yang bermalam sesuai hajatnya masing2.

Namun ketika di tanya makam siapa yang di keramatkan itu. Tidak ada yang bisa menjawab secara jelas. Orang Ngabar hanya menyebut makam mbah Wali. Memang ada beberapa yang menyebut Anglingdarma. Seringkali warga mendapati penampakan belibis putih yang menurut legenda itu perwujudan Anglingdarma. Ada di sekitar makam Sentono asri. Adakalanya juga muncul dalam bentuk Anjing besar berwarna hitam maupun ular besar menyerupai naga.

Ada pula yang menyebut Sunan Patah. Mungkin yang di maksudkan raden Patah sultan Demak. Yang justru menarik itu ada juga yang menyebut Sunan Ngudung. Sebenarnya 2 (dua) nama ini sangat terkait. Sunan Ngudung itu di samping di tunjuk sebagai imam akbar ke 4 Masjid Demak. Beliau juga sebagai Panglima perang Demak, ada juga yang menyebut sebagai Senopati perang Demak.

Ketika puncak krisis Majapahit yang di tandai dengan Condro Sengkolo Sirna Ilang Kertaningbumi atau pada tahun 1478 M. Saat penyerangan Girindrawardhana Dyah Ranawijaya ke Ibukota Majapahit. Dan Raja Majapahit Bhre Kertabhumi berhasil meloloskan diri ke gunung Lawu.

Terjadi perubahan kekuasaan Kerajaan Majapahit. Tidak lagi di pimpin dari wangsa Rajasa keturunan Raja2 Singasari dan Majapahit. Girindrawardhana itu keturunan Kediri. Meski begitu raja yang bergelar Dyah Ranawijaya itu masih mengklaim sebagai penguasa Majapahit dan sekaligus Kediri.

Dalam menjalankan roda pemerintahannya Girindrawardhana ini tidak ada kompromi dengan Islam. Bahkan menyerang Islam. Salah satunya Giri kedaton yang di serang. Berbeda dengan Bhre Kertabhumi yang memberikan keleluasaan syiar Islam di tanah Jawa. Begitu tolerannya Brawijaya V ini sampai memberikan tanah Ampeldenta kepada sunan Ampel untuk berdakwah.

Keyakinan Tantrayana yang menjadikan Girindrawardhana memusuhi Islam. Berdampak aksi pembelaan yang di lakukan Kerajaan Islam Demak yang di dukung para Wali dan pemimpin pesisir utara jawa. Raden Patah tidak hanya membela agamanya. Juga membela ayahandanya yang di jatuhkan oleh Girindrawardhana. Memang Demak menyerang Majapahit. Tapi bukan Majapahit yang sah secara garis keturunannya.

Yang agak ironi itu adik tiri Raden Patah yang bernama Raden Kusen (beda ayah). Begitu loyal dan setianya kepada Majapahit. Pasca bersama2 berguru di Sunan Ampel. Raden Patah berdakwah di daerah Bintara yang kemudian menjadi Sultan Demak, sedangkan Raden Kusen mengabdi ke Majapahit dan diangkat menjadi Adipati terung. Bahkan sampai berganti Raja. Kesetiaan Raden Kusen tidak tergoyahkan pada Majapahit, bukan pada penguasanya. Tapi pada negaranya. Yang nantinya akan berhadap2an di medan pertempuran menghadang pasukan Demak.

Bila ini sebuah drama maka ini bagai cerita kilas balik. Pasukan Demak yang di pimpin Senopati perang. Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji putra dari Syeh Maulana Malik Ibrahim. Memiliki anak yang kelak menggantikannya sebagai Panglima perang Demak; Sunan Kudus.

Dalam penyerangan awal Demak ke Majapahit memang mengalami kekalahan. Rupanya strategi Pasukan Majapahit yang di komandani Raden Kusen Adipati terung itu bukan sekadar pertahanan tapi juga memukul balik lawan. Dan mematikan.

Konon tombak Adipati terung yang menghujam sang senopati Demak. Dalam perang itu Sunan Ngudung sudah memakai zirah Kiai Antakusuma pemberian Sunan Kalijaga. Baju perang itu membuat Senopati bertahan meski terhujam tombak. Meski pada akhirnya gugur sebagai Syahid di suatu tempat yang masih menjadi misteri hingga hari ini.

Mencermati cerita itu sepertinya ada semacam kemiripan alur dengan cerita foklor masyarakat desa Ngabar terkait asal usul makam Sentono asri. Apakah Ngabar itu mengabarkan pesan yang selama ini jadi misteri. Mungkin kah seperti itu. Apalagi sudah di kenal dengan sebutan mbah wali. Bukankah Sunan Ngudung termasuk anggota dewan Wali.

Apakah juga sebuah kebetulan penamaan pendopo Balai Desa Ngabar yang tempo hari itu di ambilkan nama dari Raja Bhre Kertabhumi Brawijaya V yang nota bene ayah dari Raden Patah yang menugaskan Sunan Ngudung sebagai Panglima perangnya. Untuk membela agama dan kehormatan keluarganya. Siapapun juga selalu meyakini tak ada yang kebetulan dalam hidup ini.

Wallahu a'lam bisshowab

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun)

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)

Nama
No. HP
Alamat e-mail
Komentar
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 

Peta Desa

Aparatur Desa

Back Next

Layanan Mandiri


Silakan datang atau hubungi operator desa untuk mendapatkan kode PIN anda.

Masukan NIK dan PIN

Komentar Terkini

Info Media Sosial

Statistik Pengunjung

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung